Abu-Abu Perjalanan

Entah apa yang membuat tubuh ini begitu agresif di suatu hari. Hari yang menjadi misteri di hari selanjutnya. Seolah menghitam seolah memutih. Dua warna saling beradu salam satu hari, tak seperti biasanya. Seperti mimpi yang menjadi nyata di dunia nyata. Hanya bisa menatap dan juga merasa.

Hari pun menggelap. Namun diri masih meresah tanpa henti seolah menanti sesuatu. Diri pun seolah menolak penanganan dini. Namun hati tetaplah menarik. Menarik diri dari sebuah kegelapan yang sedang menanti di depan mata. Cahaya menggeliat menuntun arus perjalanan entah apa yang diri ini inginkan.

Getaran semakin menguat. Namun penenangan masih tetap berlanjut. Seolah waktu telah mengunci dirinya dari tubuh ini. Seolah jalan sudah tak berjumpa kembali. Jalan keluar akan tetap ada, walau diri sedang gundah. Aneh nan bingung. Antara hitam dan putih. Bersentuhan namun tak mengabu. Tetaplah hitam dan putih. Abu-abu hanya sebuah sentuhan busuk dari bujukan yang buruk. Ya… Gelar itu sudah tak perlu disebutkan lagi. Maka tenanglah! Jalan keluar masih ada. Hanya perlu melangkah, pergi menjauh dari sisi keabu-abuan. Ya… Keabu-abuan.

Iklan

Peganglah Untuk Sebuah Ketenangan

Hanya mencoba menarik ide dari akal yang terbatas. Ya… Akal dari seorang manusia yang lemah di hadapan Tuhannya. Bergerak menggebu beriringan nada-nada kekuatan. Namun tubuh belumlah siap. Mencoba mendobrak berbagai sisi benteng yang sedang berdiri kokoh. Namun takdir masih belum menjelaskan. Serobek kertas ditarik pena pun diangkat. Ukiran pun bergentayangan mengitari putih. Terjalinlah kisah diri yang masih melemah. Menuntun diri mencari sesuatu yang abstrak namun membahagiakan. Ya… Hanya bisa mendengkur dengan uraian kata yang belum mengakhir. Ya… Masa itu sudah berlalu. Sudahlah! Diri ini masih harus melangkah. Peganglah untuk sebuah ketenangan!

Menggertak Namun Tak Bersuara

Mengayunkan kaki menuju sebuah lokasi yang sedang dituju menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang manusia. Bersenandung ria di setiap jejak kehidupan. Menari sembari berjalan. Namun gelap dihempas lantunan hitam. Hanya sebuah kisah kelam namun sulit untuk dijelaskan. Menjadi seoang manusia yang terluka namun tak berdarah. Ya… Mungkin sebuah kenangan sedang menanti di meja yang sudah dipesan. Namun diri belum bersedia menghampiri. Sang penunggu terlihat gelap namun menggetarkan. Ya… Ukiran luka sepertinya masih menusuk tak berdarah. Sebuah gertakan yang selalu misterius. Abstrak namun sakit tak berdarah juga tak bersuara.

Sepotong Ukiran Hitam

Menggema di sebuah ruangan kosong seringkali menjadi sesuatu yang menarik di ingatan manusia. Namun di tengah keramaian seolah tak berjejak dari jarak terdekat. Menuangkan tinta hitam melalui dataran putih yang selalu misterius seolah diri tak pernah puas. Sempurna, mungkin sesuatu yang dicari dan diinginkan. Melangkah di setiap sudut putih mencari akhir dari perjalanan. Hanya mengoceh namun belum bertindak. Goresan pun berlanjut. Lantunan nada berdendang mengiringi penggoresan dataran putih. Namun dataran mulai menghitam. Ukiran pun membentuk sebuah lengkungan nan lurus. Membentuk sebuah lantunan kisah. Kisah yang terukir namun menghitam. Ya… Sepertinya itu sepotong ukiran hitam.

Hanya Setapak Jejak

Jalan-jalan di tengah keramaian manusia sepertinya sudah tak lazim lagi. Namun sepi selalu ada di balik dinding perantara di antara keduanya. Hanya berputar-putar mengelilingi arus perjalanan yang terus berputar. Namun waktu masih memberi kesempatan di tengah panasnya terik perputaran kehidupan. Mencoba hidup namun masih belum melangkah. Entah apa langkah berikutnya? Terngiang di kepala namun tak bergerak. Hanya terdiam menanti sesuatu yang spesial di masa yang sedang dinanti. Namun itu masih misteri. Setapak langkah menjadi sebuah acuan atas perjalanan seorang manusia yang sedang menanti masa itu. Ya… Hanya Setapak Langkah.

Menatap Namun Tak Bermata

Bergerak mengiringi lantunan nada kehidupan sudah menjadi bagian dari siklus perjalanan manusia. Ruang dan waktu senantiasa terisi satu sama lain. Berdendang mendengarkan dengkuran percakapan manusia seolah diri tak pernah ada. Entah apa itu? Namun diri masih mengasing di tengah perputaran jejak kehidupan. Resah sudah mewajar namun diri seolah tak mengerti. Perih selalu ada namun bukan soal cinta. Menatap ke langit-langit namun kosong di dalam pandangannya. Ya… Sepertinya cahaya masih menanti di sebuah area misterius. Mencoba menarik bagian penting dari apa yang sedang diraba. Namun masih hampa di hadapannya. Ya… Sebuah tatapan kosong dari pandangan yang tak bermata.